Another story of my awesome life...
Lagi-lagi berawal dari 'jeplak tanpa mikir', entah kenapa hal tersebut
selalu mengilhami saya.
Btw, saya seorang fotografer tanpa kamera, jadi itu seperti koki tanpa
pisau dapurnya, atau kata penyanyi dangdut bagai sayur tanpa garam kurang enak
kurang sedap.
Tapi walaupun tanpa kamera, saya cukup terlatih menggunakan kamera *put the
glasses on*
Pernah berpikir indahnya gelap malam? | Say what? | Yeah, the beauty of the
night.
Banyak orang berpikir malam hari enaknya yang hangat-hangat, entah tidur
(sendirian pake selimut, atau berdua......... bareng istri :| apasih), atau
sekedar menikmati kopi sambil nonton film favorit. Well, hidup anda terlalu
singkat untuk waktu yang telah anda sia-siakan tersebut.
Sekali-kali, berfikirlah, hidup ini terlalu singkat untuk tidak menikmati
keindahan alam semesta ciptaan dari yang membuat lombok menjadi merah (baca:
sing ngecet lombok). Sekali-sekali terjanglah dinginnya malam, lawan rasa
ngantuk anda, buang rasa takut anda, kumpulkan keberanian anda. Untuk satu hal,
sebagai contoh, nikmati indahnya malam bertabur bintang, eleciye.
Cerita bermula ketika tepat jam 8 malam waktu bagian jam saya, kami bertiga
(saya; marinto; tito) berangkat menuju tempat tujuan, mana lagi kalu bukan
Gunung Banyak a.k.a Paralayang. Kata orang kalau pergi kemana-mana orangnya
ganjil katanya kenapa-kenapa. Well, that's absolutely a myth, you may believe
it or not. But, we are survive, that means it wrong. Setelah sampai di tempat
tujuan sekitar pukul 9 malam. Sayangnya 'sing ngecet lombok' belum
mengijinkan kami untuk menikmati malam yang kami idam-idamkan tersebut karena
ya begitulah, namanya gunung identik dengan awan tebal dan kabut. Walhasil kami
menunggu sambil bermain kartu dan makan kacang si tengah sebuah gunung dengan
pakaian seadanya diterpa angin kencang dan suhu dibawah 15°. You know what,
it's freeeeeeeeeezziiiiiiinnnngggggg.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 01.15 dinihari, WTF..?? ternyata
tak terasa main kartu selama itu. Dan parahnya si kabut dan si awan belum juga
turun. Oke fine, itu tak menghalangi kami untuk tetap menunggu dan sabar.
Karena salah satu dari kami seorang perokok aktif, otomatis bawa korek api,
tanpa pikir panjang, sampah yang ada di sekeliling dan sedikit 'eker-eker' di
tempat sampah, terkumpullah sampah kering siap bakar. Dan, lhaaaabbbb, api
menyala, sedikit kehangatan tercipta.
Waktu berlalu, dan akhirnya api pun padam, tapi tenang cintaku padamu
takkan pernah padam, dear ..... *siapapun yang mau namanya ada disini, sila
mention ke @indrathehacker wkwkwkwk*. Dan waktu menunjukkan pukul 03.15
dinihari. Menurut penelitian waktu terdingin rata-rata di permukaan Bumi adalah
antara pukul 02.00 s/d 04.00, itu adalah waktu yang tepat untuk anda mengisi
bensin karena, semakin dingin semakin sedikit bensin yang menguap daripada anda
mengisi bensin pada waktu siang hari. Nah lha kok malah bahas isi bensin,
sudah-sudah kembali ke topik. Dan kata peneliti itu benar ga cuma sekali. Tapi
benar berkali-kali. Kebetulan hape udah canggih, pas GPS diaktifkan
memang benar, forecast menunjukkan suhu 12°.
Pas kami observasi buat tempat terbaik (baca: best spot) untuk motret, di
momen inilah kabut mulai turun. Doa kami terjawab, kami naik Haji (Aamiin), oh
bukan, kami bisa menikmati indahnya malam. Tanpa pikir panjang, semua
perlengkapan langsung kami set, tripod, kamera, semua kami persiapkan. Dan ya
gitu deh, mulai setting ISO, Focal Length, ShutterSpeed, Exposure and stuffs like that.
Ada beberapa percobaan yang kami lakukan, namun hanya beberapa yang
hasilnya memuaskan. Untuk lebih jelasnya silahkan simak gambar-gambar hasil
jepretan kami di bawah ini. Enjoy.
You see that city is
under the fog
Look
at this ‘three mas kentir’ :D
Coba
temukan Rasi Bintang Orion (Sang Pemburu)
Percayakah
anda foto ini didapatkan hanya dengan sekali setting? This is what we called
‘Luck of the Shot’
Another
amazing photo by me :D
Dari foto di atas,
banyak dari anda mungkin berfikir, inti dari cerita ini apa? Terus judulnya kok
ngga ada kaitannya sih? Iya kan? Memang benar, cerita tadi adalah sedikit
curhat, wehehe, jarang-jarang saya bisa curhat lewat tulisan. Atau mungkin anda
berfikiran hasil fotonya kok jelek? Memang saya bukan fotografer professional
seperti idola saya Om Arbain Rambey. Tapi saya yakin dulu Om Arbain pun pasti
pernah di level seperti saat ini saya berada. Dan saya yakin semua orang bisa
seperti dia asalkan mau belajar dan mencoba. Fotografi adalah ilmu praktek
bukan teori, anda tidak akan pernah bisa menghasilkan, yah minimal seperti foto
di atas kalau anda belum pernah sama sekali mencoba. Am I right? Yes I am.
Well terlepas dari itu
semua cerita di atas juga memberikan anda gambaran bagaimana usaha kami bertiga
melewati dinginnya malam tanpa tidur, saya ulangi saya ulangi, tanpa tidur,
bisa anda catat, hanya untuk menikmati hal tersebut, yang belum tentu orang
lain bisa. Dari foto-foto di atas
saya pribadi tersadar, entah dua teman saya yang lain ikutan sadar atau tidak,
saya juga tidak tahu. Saya perlihatkan sekali lagi satu foto perhatikan dengan
seksama.
Itu
foto saya, silahkan perhatikan dengan seksama. Keren kan? :p
Sudah? Bagaimana? Ada
yang mau jadi pasangan saya? HAHAHA? Pasti tidak ada :| Oh oke. Apa yang ada di
benak anda? Saya keren? Tentu bukan. Saya Ganteng? Apalagi. Saya kasih
penjelasan apa maksud saya mengabadikan foto saya sendiri (baca: self potrait).
Perhatikan lagi, di foto jelas objek utama adalah orang, dalam hal ini saya,
sebagai background adalah hamparan bintang-bintang di langit yang tak seindah
hamparan bintang-bintang di matamu, ciyeilah.
Sejenak kita
kesampingkan foto saya yang keren *put the glasses on* itu dan coba fokus ke
bintang-bintang yang bertebaran seperti debu yang tertiup angin dan
menempel pada sebuah kaca. Kita (manusia) berpikir bintang-bintang itu jaraknya
sangat jauh, saya kasih contoh, Bintang terdekat dengan Bumi, Matahari kita,
jaraknya ± 150.000.000.000 km. Itu kalau naik ojek kira-kira berapa ongkos
bayar ojeknya ya? Kalu Pasar Besar Malang ke Dinoyo itu kira-kira Rp 15.000,-
no tawar menawar, lha kok kembali ke pekerjaan saya dulu, sudah sudah.
Lanjut, bintang kedua
terdekat dari Bumi adalah α Centaur (baca: alpha sentauri) jaraknya sekitar 40
juta tahun cahaya. Nah kan semakin pusing. Tenang saya kasih perhitungan. Jika
kecepatan cahaya adalah 300.000 km/DETIK, maka 40 juta tahun cahaya adalah
300.000 km/detik dikali 60 detik dikali 60 menit dikali 24 jam dikali 365 hari
dikali 40 juta maka hasilnya adalah eng ing eng 378.432.000.000.000.000.000 km.
Angka yang sulit bukan, saya ingatkan jangan pernah sekali-sekali mencoba
membacanya. Itu adalah jarak antara Bumi dengan alpha sentauri. Di langit
bintang ini terlihat paling terang, coba lihat foto saya, bintang yang paling
terang itulah alpha sentauri. Padahal bintang ini besarnya sekitar 40x matahari
kita. Hmm, sudah mulai merinding?
Sekarang coba bayangkan
ada berapa banyak bintang di foto saya tersebut? Berapa? Ratusan? Ribuan? Well,
silahkan hitung sendiri.
Mereka hanyalah bintang
kecil seperti nyanyian zaman kecil kita dulu, ingat?
Mereka hanyalah
debu-debu indah di langit malam yang ngga bikin kita kelilipan kalo kita lihat.
Itu bagi manusia.
Sekarang kita bahas
perspective, karena fotografer harus tahu maksud dari kata ini. Dalam Bahasa
Indonesia perspektif artinya sudut pandang, sudut pandang kita sebagai manusia
tentu saja mengira bintang-bintang tersebut hanya itu tadi, debu yang indah di
langit malam yang ngga bikin kita kelilipan. Tapi, pernahkan anda melihat kita
(manusia) dari sudut pandang bintang itu sendiri? I don’t think so.
Coba
perhatikan gambar di bawah ini
Besar planet kita
(Bumi) tidak lebih besar daripada bintik hitam matahari (sunspot), dan sekarang
coba perhatikan ukuran planet kita dengan planet-planet yang lain, misalnya
jupiter, saturnus, atau yang lain.
Itu masih belum
seberapa, sekarang coba perhatikan gambar di bawah ini
Comparasion
between planets and stars
Matahari kita hanya salah satu dari jutaan, bukan,
milyaran, bukan, trilyunan ‘bintang kecil’ di jagat raya ini. Entah ada berapa
banyak yang ada di luar sana.
Well, saya pribadi merinding ketika pertama
mengetahui fakta ini. Takjub, senang, takut, dan perasaan-perasaan yang lain
bercampur menjadi satu ketika berada tepat di bawah hamparan bintang kala itu.
Mungkin saya hanyalah satu orang yang sadar dan beruntung bisa menikmati
menikmati hal ini.
Satu hal yang saya petik dari kejadian ini, ketika
saya duduk termenung takjub melihat ke atas ke hamparan bintang saya berfikir.
Bagaimana manusia begitu angkuh dan sombong berada di Bumi ini, ada orang yang
menganggap diri mereka paling besar, paling benar, paling ‘besar’. Ketika anda
membaca ini, segera setelah selesai membaca semuanya, resapi dan rasakan betapa
kecilnya anda di jagat raya ini. Setelah itu segera ambil air, bukan untuk
minum, tapi untuk menyucikan diri anda, bersujudlah pada-Nya. Ingat kita
hanyalah A Piece of Dust In The Middle Of The Desert.
Last but not least, quotes time
 |
| Credit to Original Uploader |
“Do
not ever think that you are big and judge somewhat or someone are small, sometimes
it just a matter of perspective, in fact it is ‘YOU’ who are the small
one.” — Indra Abdi Wardana, Regular
Human
 |
| Credit to Original Uploader |
"And
as I looked at the star, I realised what millions of other people have realised
when looking at stars. We’re tiny. We don’t matter. We’re here for a second and
then gone the next. We’re a sneeze in the life of the universe." — Danny
Wallace, Writer
 |
| Credit to Original Uploader |
"Looking
at these stars suddenly dwarfed my own troubles and all the gravities of
terrestrial life. I thought of their unfathomable distance, and the slow
inevitable drift of their movements out of the unknown past into the unknown
future." — H. G. Wells, Science Fiction Writer
 |
| Credit to Original Uploader |
"I often think that the night is more alive and
more richly colored than the day." — Vincent Van Gogh
 |
| Credit to Original Uploader |