Kata-kata itu terucap dari salah seorang ibu kepada anaknya (bukan saya yang jelas), entah maksudnya apa. Tapi saya menangkapnya bahwa anak muda keturunan Jawa sekarang sudah mulai meninggalkan peninggalan-peninggalan para leluhurnya.
Suku di Jawa memang banyak ragamnya, tapi yang menjadi mayoritas adalah Jowo Etanan atau Jowo Tengahan. Tahukah anda Bahasa Jawa memiliki jumlah penutur sekitar 90 juta orang, sehingga menjadikan bahasa non-nasional yang menempati urutan pertama karena memiliki jumlah penutur terbanyak di dunia. Menurut survei UNESCO.
Entah kenapa memang Bahasa Jawa menurut saya jauh lebih rumit daripada Bahasa Inggris. Sebagai contoh, di Bahasa Inggris memanggil orang yang lebih tua, entah kakak, paman, ayah, atau yang lain, mereka langsung bilang 'You' bahkan kebanyakan memanggil nama langsung. Bukankah itu kurang sopan?
Bandingkan dengan Bahasa Jawa, memanggil seseorang kita harus melihat dengan siapa kita bicara, semacam ada tingkatan level antara kita dengan lawan bicara. Contoh yang sama, kita memanggil kakak dengan 'Sampeyan', memanggil nenek dengan 'Panjenengan'. Lihat? Rumit sekali bukan? Itu hanya satu contoh.
Iseng-iseng surfing di situs 1cak (baca: wancak) tiba-tiba terhenti dengan postingan gambar berikut ini
Lucu? Kok anda ketawa?
Lihat betapa kayanya kamus Bahasa Jawa kita, itu hanyalah satu contoh kata 'jatuh' jika di terjemahan ke Bahasa Inggris hanya akan jadi 'fall'. Coba bandingkan dengan terjemahan ke Bahasa Jawa. Berbeda konsidi jatuhnya berbeda pula bahasa yang digunakan.
Marilah kita sebagai orang Jawa menjaga warisan budaya kita ini agar tidak tergerus oleh pergeseran zaman yang semakin hari semakin menjadi.
Akhir kata 'Dadio arek sing njawani'




0 comments:
Post a Comment