26 November 2013

Saya Bangga Jadi 'Wong Jowo'

"Arek jowo tapi nggak njawani"

Kata-kata itu terucap dari salah seorang ibu kepada anaknya (bukan saya yang jelas), entah maksudnya apa. Tapi saya menangkapnya bahwa anak muda keturunan Jawa sekarang sudah mulai meninggalkan peninggalan-peninggalan para leluhurnya.

Suku di Jawa memang banyak ragamnya, tapi yang menjadi mayoritas adalah Jowo Etanan atau Jowo Tengahan. Tahukah anda Bahasa Jawa memiliki jumlah penutur sekitar 90 juta orang, sehingga menjadikan bahasa non-nasional yang menempati urutan pertama karena memiliki jumlah penutur terbanyak di dunia. Menurut survei UNESCO.

Entah kenapa memang Bahasa Jawa menurut saya jauh lebih rumit daripada Bahasa Inggris. Sebagai contoh, di Bahasa Inggris memanggil orang yang lebih tua, entah kakak, paman, ayah, atau yang lain, mereka langsung bilang 'You' bahkan kebanyakan memanggil nama langsung. Bukankah itu kurang sopan?

Bandingkan dengan Bahasa Jawa, memanggil seseorang kita harus melihat dengan siapa kita bicara, semacam ada tingkatan level antara kita dengan lawan bicara. Contoh yang sama, kita memanggil kakak dengan 'Sampeyan', memanggil nenek dengan 'Panjenengan'. Lihat? Rumit sekali bukan? Itu hanya satu contoh.

Iseng-iseng surfing di situs 1cak (baca: wancak) tiba-tiba terhenti dengan postingan gambar berikut ini

Lucu? Kok anda ketawa? 

Lihat betapa kayanya kamus Bahasa Jawa kita, itu hanyalah satu contoh kata 'jatuh' jika di terjemahan ke Bahasa Inggris hanya akan jadi 'fall'. Coba bandingkan dengan terjemahan ke Bahasa Jawa. Berbeda konsidi jatuhnya berbeda pula bahasa yang digunakan.

Marilah kita sebagai orang Jawa menjaga warisan budaya kita ini agar tidak tergerus oleh pergeseran zaman yang semakin hari semakin menjadi. 

Akhir kata 'Dadio arek sing njawani'

Dust In The Middle Of A Desert

Another story of my awesome life...

Lagi-lagi berawal dari 'jeplak tanpa mikir', entah kenapa hal tersebut selalu mengilhami saya.
Btw, saya seorang fotografer tanpa kamera, jadi itu seperti koki tanpa pisau dapurnya, atau kata penyanyi dangdut bagai sayur tanpa garam kurang enak kurang sedap.
Tapi walaupun tanpa kamera, saya cukup terlatih menggunakan kamera *put the glasses on*
Pernah berpikir indahnya gelap malam? | Say what? | Yeah, the beauty of the night.

Banyak orang berpikir malam hari enaknya yang hangat-hangat, entah tidur (sendirian pake selimut, atau berdua......... bareng istri :| apasih), atau sekedar menikmati kopi sambil nonton film favorit. Well, hidup anda terlalu singkat untuk waktu yang telah anda sia-siakan tersebut.

Sekali-kali, berfikirlah, hidup ini terlalu singkat untuk tidak menikmati keindahan alam semesta ciptaan dari yang membuat lombok menjadi merah (baca: sing ngecet lombok). Sekali-sekali terjanglah dinginnya malam, lawan rasa ngantuk anda, buang rasa takut anda, kumpulkan keberanian anda. Untuk satu hal, sebagai contoh, nikmati indahnya malam bertabur bintang, eleciye.

Cerita bermula ketika tepat jam 8 malam waktu bagian jam saya, kami bertiga (saya; marinto; tito) berangkat menuju tempat tujuan, mana lagi kalu bukan Gunung Banyak a.k.a Paralayang. Kata orang kalau pergi kemana-mana orangnya ganjil katanya kenapa-kenapa. Well, that's absolutely a myth, you may believe it or not. But, we are survive, that means it wrong. Setelah sampai di tempat tujuan sekitar pukul 9 malam. Sayangnya 'sing ngecet lombok' belum mengijinkan kami untuk menikmati malam yang kami idam-idamkan tersebut karena ya begitulah, namanya gunung identik dengan awan tebal dan kabut. Walhasil kami menunggu sambil bermain kartu dan makan kacang si tengah sebuah gunung dengan pakaian seadanya diterpa angin kencang dan suhu dibawah 15°. You know what, it's freeeeeeeeeezziiiiiiinnnngggggg.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 01.15 dinihari, WTF..?? ternyata tak terasa main kartu selama itu. Dan parahnya si kabut dan si awan belum juga turun. Oke fine, itu tak menghalangi kami untuk tetap menunggu dan sabar. Karena salah satu dari kami seorang perokok aktif, otomatis bawa korek api, tanpa pikir panjang, sampah yang ada di sekeliling dan sedikit 'eker-eker' di tempat sampah, terkumpullah sampah kering siap bakar. Dan, lhaaaabbbb, api menyala, sedikit kehangatan tercipta.

Waktu berlalu, dan akhirnya api pun padam, tapi tenang cintaku padamu takkan pernah padam, dear ..... *siapapun yang mau namanya ada disini, sila mention ke @indrathehacker wkwkwkwk*. Dan waktu menunjukkan pukul 03.15 dinihari. Menurut penelitian waktu terdingin rata-rata di permukaan Bumi adalah antara pukul 02.00 s/d 04.00, itu adalah waktu yang tepat untuk anda mengisi bensin karena, semakin dingin semakin sedikit bensin yang menguap daripada anda mengisi bensin pada waktu siang hari. Nah lha kok malah bahas isi bensin, sudah-sudah kembali ke topik. Dan kata peneliti itu benar ga cuma sekali. Tapi benar berkali-kali. Kebetulan hape udah canggih, pas GPS diaktifkan memang benar, forecast menunjukkan suhu 12°.

Pas kami observasi buat tempat terbaik (baca: best spot) untuk motret, di momen inilah kabut mulai turun. Doa kami terjawab, kami naik Haji (Aamiin), oh bukan, kami bisa menikmati indahnya malam. Tanpa pikir panjang, semua perlengkapan langsung kami set, tripod, kamera, semua kami persiapkan. Dan ya gitu deh, mulai setting ISO, Focal Length, ShutterSpeed, Exposure and stuffs like that.

Ada beberapa percobaan yang kami lakukan, namun hanya beberapa yang hasilnya memuaskan. Untuk lebih jelasnya silahkan simak gambar-gambar hasil jepretan kami di bawah ini. Enjoy.

 You see that city is under the fog


Look at this ‘three mas kentir’ :D



Coba temukan Rasi Bintang Orion (Sang Pemburu) 

Percayakah anda foto ini didapatkan hanya dengan sekali setting? This is what we called ‘Luck of the Shot’

Another amazing photo by me :D


Dari foto di atas, banyak dari anda mungkin berfikir, inti dari cerita ini apa? Terus judulnya kok ngga ada kaitannya sih? Iya kan? Memang benar, cerita tadi adalah sedikit curhat, wehehe, jarang-jarang saya bisa curhat lewat tulisan. Atau mungkin anda berfikiran hasil fotonya kok jelek? Memang saya bukan fotografer professional seperti idola saya Om Arbain Rambey. Tapi saya yakin dulu Om Arbain pun pasti pernah di level seperti saat ini saya berada. Dan saya yakin semua orang bisa seperti dia asalkan mau belajar dan mencoba. Fotografi adalah ilmu praktek bukan teori, anda tidak akan pernah bisa menghasilkan, yah minimal seperti foto di atas kalau anda belum pernah sama sekali mencoba. Am I right? Yes I am.

Well terlepas dari itu semua cerita di atas juga memberikan anda gambaran bagaimana usaha kami bertiga melewati dinginnya malam tanpa tidur, saya ulangi saya ulangi, tanpa tidur, bisa anda catat, hanya untuk menikmati hal tersebut, yang belum tentu orang lain bisa. Dari foto-foto di atas saya pribadi tersadar, entah dua teman saya yang lain ikutan sadar atau tidak, saya juga tidak tahu. Saya perlihatkan sekali lagi satu foto perhatikan dengan seksama.


Itu foto saya, silahkan perhatikan dengan seksama. Keren kan? :p


Sudah? Bagaimana? Ada yang mau jadi pasangan saya? HAHAHA? Pasti tidak ada :| Oh oke. Apa yang ada di benak anda? Saya keren? Tentu bukan. Saya Ganteng? Apalagi. Saya kasih penjelasan apa maksud saya mengabadikan foto saya sendiri (baca: self potrait). Perhatikan lagi, di foto jelas objek utama adalah orang, dalam hal ini saya, sebagai background adalah hamparan bintang-bintang di langit yang tak seindah hamparan bintang-bintang di matamu, ciyeilah.

Sejenak kita kesampingkan foto saya yang keren *put the glasses on* itu dan coba fokus ke bintang-bintang yang bertebaran seperti debu yang tertiup angin dan menempel pada sebuah kaca. Kita (manusia) berpikir bintang-bintang itu jaraknya sangat jauh, saya kasih contoh, Bintang terdekat dengan Bumi, Matahari kita, jaraknya ± 150.000.000.000 km. Itu kalau naik ojek kira-kira berapa ongkos bayar ojeknya ya? Kalu Pasar Besar Malang ke Dinoyo itu kira-kira Rp 15.000,- no tawar menawar, lha kok kembali ke pekerjaan saya dulu, sudah sudah.

Lanjut, bintang kedua terdekat dari Bumi adalah α Centaur (baca: alpha sentauri) jaraknya sekitar 40 juta tahun cahaya. Nah kan semakin pusing. Tenang saya kasih perhitungan. Jika kecepatan cahaya adalah 300.000 km/DETIK, maka 40 juta tahun cahaya adalah 300.000 km/detik dikali 60 detik dikali 60 menit dikali 24 jam dikali 365 hari dikali 40 juta maka hasilnya adalah eng ing eng 378.432.000.000.000.000.000 km. Angka yang sulit bukan, saya ingatkan jangan pernah sekali-sekali mencoba membacanya. Itu adalah jarak antara Bumi dengan alpha sentauri. Di langit bintang ini terlihat paling terang, coba lihat foto saya, bintang yang paling terang itulah alpha sentauri. Padahal bintang ini besarnya sekitar 40x matahari kita. Hmm, sudah mulai merinding?

Sekarang coba bayangkan ada berapa banyak bintang di foto saya tersebut? Berapa? Ratusan? Ribuan? Well, silahkan hitung sendiri.

Mereka hanyalah bintang kecil seperti nyanyian zaman kecil kita dulu, ingat?

Mereka hanyalah debu-debu indah di langit malam yang ngga bikin kita kelilipan kalo kita lihat.





Itu bagi manusia.

Sekarang kita bahas perspective, karena fotografer harus tahu maksud dari kata ini. Dalam Bahasa Indonesia perspektif artinya sudut pandang, sudut pandang kita sebagai manusia tentu saja mengira bintang-bintang tersebut hanya itu tadi, debu yang indah di langit malam yang ngga bikin kita kelilipan. Tapi, pernahkan anda melihat kita (manusia) dari sudut pandang bintang itu sendiri? I don’t think so.

Coba perhatikan gambar di bawah ini

Besar planet kita (Bumi) tidak lebih besar daripada bintik hitam matahari (sunspot), dan sekarang coba perhatikan ukuran planet kita dengan planet-planet yang lain, misalnya jupiter, saturnus, atau yang lain.
Itu masih belum seberapa, sekarang coba perhatikan gambar di bawah ini

Comparasion between planets and stars


Matahari kita hanya salah satu dari jutaan, bukan, milyaran, bukan, trilyunan ‘bintang kecil’ di jagat raya ini. Entah ada berapa banyak yang ada di luar sana.

Well, saya pribadi merinding ketika pertama mengetahui fakta ini. Takjub, senang, takut, dan perasaan-perasaan yang lain bercampur menjadi satu ketika berada tepat di bawah hamparan bintang kala itu. Mungkin saya hanyalah satu orang yang sadar dan beruntung bisa menikmati menikmati hal ini.

Satu hal yang saya petik dari kejadian ini, ketika saya duduk termenung takjub melihat ke atas ke hamparan bintang saya berfikir. Bagaimana manusia begitu angkuh dan sombong berada di Bumi ini, ada orang yang menganggap diri mereka paling besar, paling benar, paling ‘besar’. Ketika anda membaca ini, segera setelah selesai membaca semuanya, resapi dan rasakan betapa kecilnya anda di jagat raya ini. Setelah itu segera ambil air, bukan untuk minum, tapi untuk menyucikan diri anda, bersujudlah pada-Nya. Ingat kita hanyalah A Piece of Dust In The Middle Of The Desert.

Last but not least, quotes time

Credit to Original Uploader

“Do not ever think that you are big and judge somewhat or someone are small, sometimes it just a matter of perspective, in fact it is ‘YOU’ who are the small one.”  — Indra Abdi Wardana, Regular Human

Credit to Original Uploader
"And as I looked at the star, I realised what millions of other people have realised when looking at stars. We’re tiny. We don’t matter. We’re here for a second and then gone the next. We’re a sneeze in the life of the universe." — Danny Wallace, Writer


Credit to Original Uploader
"Looking at these stars suddenly dwarfed my own troubles and all the gravities of terrestrial life. I thought of their unfathomable distance, and the slow inevitable drift of their movements out of the unknown past into the unknown future." — H. G. Wells, Science Fiction Writer  

Credit to Original Uploader
"I often think that the night is more alive and more richly colored than the day." — Vincent Van Gogh

Credit to Original Uploader